Pengaruh Penambahan Limbah Serbuk Kayu Bangkirai dan Pasir Karjon terhadap Karakteristik Marshall Campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC)
DOI:
https://doi.org/10.31004/riggs.v5i1.6655Keywords:
AC-WC, Marshall, Pasir Karjon, Limbah Serbuk Kayu BangkiraiAbstract
Perkerasan jalan umumnya menggunakan lapisan Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) sebagai lapisan aus yang berfungsi menerima beban lalu lintas secara langsung serta melindungi lapisan struktur di bawahnya dari pengaruh cuaca dan air. Peningkatan volume dan beban kendaraan menuntut campuran AC-WC memiliki stabilitas, fleksibilitas, dan durabilitas yang baik. Di sisi lain, penggunaan material konvensional secara terus-menerus berpotensi meningkatkan eksploitasi sumber daya alam, sehingga diperlukan inovasi material alternatif yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan limbah serbuk kayu bangkirai sebagai bahan tambah dan pasir karjon sebagai substitusi sebagian agregat halus terhadap karakteristik Marshall campuran AC-WC. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan pembuatan 48 benda uji berdasarkan variasi kadar pasir karjon 0%, 2%, 4%, dan 6% serta limbah serbuk kayu bangkirai 0%, 1%, 3%, dan 5%. Pengujian Marshall dilakukan untuk memperoleh parameter VIM, VMA, VFB, stabilitas, flow, dan Marshall Quotient mengacu pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2. Hasil penelitian menunjukkan seluruh variasi campuran memenuhi persyaratan teknis. Komposisi optimum diperoleh pada campuran 2% pasir karjon dan 5% limbah serbuk kayu bangkirai (P2S5%) dengan nilai stabilitas 958,14 kg, flow 3,13 mm, VIM 3,85%, VMA 22,37%, VFB 82,78%, dan Marshall Quotient 305,90 kg/mm. Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan material alternatif tersebut efektif meningkatkan kinerja campuran AC-WC serta berpotensi mendukung konstruksi perkerasan jalan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Downloads
References
Badan Standardisasi Nasional. (1996). SNI 03-4142-1996: Metode pengujian jumlah bahan dalam agregat yang lolos saringan No. 200 (0,075 mm). Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2011a). SNI 2434:2011: Cara uji titik lembek aspal dengan alat cincin dan bola (Ring and Ball). Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2011b). SNI 2441:2011: Cara uji berat jenis aspal keras. Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2011c). SNI 2456:2011: Cara uji penetrasi aspal. Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2012a). SNI ASTM C117:2012: Metode uji bahan yang lebih halus dari saringan 75 µm (No. 200) dalam agregat mineral dengan pencucian. Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2012b). SNI ASTM C136:2012: Metode uji untuk analisis saringan agregat halus dan agregat kasar. Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2016a). SNI 1969:2016: Metode uji berat jenis dan penyerapan air agregat kasar. Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2016b). SNI 1970:2016: Metode uji berat jenis dan penyerapan agregat halus. Badan Standardisasi Nasional.
Direktorat Jenderal Bina Marga. (2003). RSNI M-01-2003: Metode pengujian campuran beraspal panas dengan alat Marshall. Direktorat Jenderal Bina Marga.
Direktorat Jenderal Bina Marga. (2010). Spesifikasi umum 2010 (Revisi 3). Direktorat Jenderal Bina Marga.
Direktorat Jenderal Bina Marga. (2018). Spesifikasi umum Bina Marga 2018 (Revisi 2) untuk pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Faltoni, A., & Afandi, N. (2021). Pengaruh penggunaan aspal Buton B5/20 dengan agregat lokal Madura pada campuran aspal panas AC-WC terhadap karakteristik Marshall. Rekayasa: Jurnal Teknik Sipil, 6(1), 11. https://doi.org/10.53712/rjrs.v6i1.1157
Fithra, H. (2017). Pengaruh jumlah tumbukan pada campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) tambahan lateks terhadap sifat Marshall. Teras Jurnal, 7(1), 203–212.
Hermaldi, M., & Sjahdanulirwan, M. (2008). Usulan spesifikasi campuran beraspal panas Asbuton Lawele untuk perkerasan jalan. Jurnal Jalan-Jembatan, 25(3), 327–349.
Hakim, A. L. N., & Widayanti, A. (2025). Karakteristik abu serbuk kayu jati dan material agregat alam. Jurnal Mitrans.
Kefie, P. T., Suryadharma, A., Santoso, I., & Proboyo, B. (2011). Perancangan perkerasan concrete block dan estimasi biaya. Patrisius, 1–8.
Mallisch, W. R. (1988). Roller compacted concrete pavements. Concrete Construction - World of Concrete, 33(1).
Nugraha, D. C., & Agustapraja, H. R. (2024). Pengaruh sekam padi dan serbuk kayu sebagai substitusi filler pada campuran Laston AC-WC. Jurnal Talenta Sipil, 7(1), 42–64.
Perdana, R. F., & Supriyanto, B. (2022). Utilization of rice husk waste and wood powder as filler in AC-WC asphalt. JACEE, Universitas Islam Sultan Agung.
Pratama, F. D. (2021). Pengaruh penggunaan substitusi filler serbuk kayu dalam campuran aspal beton. Jurnal Teknik Sipil Unaya.
Purwanto, H. (2024). Pengaruh penambahan abu sekam padi terhadap karakteristik campuran aspal beton. Jurnal CEBT.
Rahman, I. N., Damara, D. S., & Nurdiana, A. (2024). Pemanfaatan limbah serbuk kayu dengan zat aditif anti-stripping agent terhadap durabilitas AC-WC. PILARS UNDIP, 2(3), 1–7.
Sims, I. (2016). The Shell bitumen handbook. Proceedings of the Institution of Civil Engineers - Construction Materials, 169(1). https://doi.org/10.1680/jcoma.15.00061
Yunus, A. I. (2024). Tinjauan nilai parameter Marshall dan kehilangan berat campuran AC-WC menggunakan abu sekam padi. Jurnal Tekstur, 2(1), 21–35
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Adela Berliana, Shinta Dwi Oktavia, Juny Andry Sulistyo

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


















