Pengembangan Model Ruang Tenang untuk Mendukung Regulasi Diri Anak ADHD di Sekolah Inklusi
DOI:
https://doi.org/10.31004/riggs.v4i4.5127Keywords:
ADHD, Regulasi Diri, Model Ruang Tenang, Pendidikan InklusifAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model ruang tenang yang dirancang secara khusus guna mendukung regulasi diri anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) di sekolah inklusi. Latar belakang penelitian didasarkan pada kondisi bahwa banyak sekolah inklusi belum memiliki program ruang tenang yang terstruktur dan berbasis kebutuhan spesifik anak ADHD, khususnya dalam menangani kesulitan regulasi emosi, kelebihan rangsangan sensori, serta masalah perhatian dan konsentrasi. Kondisi tersebut menyebabkan penanganan yang dilakukan oleh guru dan pendamping masih bersifat situasional dan belum didukung oleh pedoman operasional yang sistematis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan Research and Development dengan desain yang disederhanakan menjadi tiga tahap utama. Tahap pertama adalah analisis kebutuhan dan studi pendahuluan yang dilakukan melalui telaah dokumen serta wawancara dan diskusi kelompok terarah dengan guru, guru pendamping, dan pihak sekolah. Tahap kedua adalah perancangan model ruang tenang yang mencakup perumusan tujuan program, sasaran pengguna, bentuk aktivitas regulasi diri, prosedur operasional standar, peran guru dan pendamping, serta konsep desain fisik ruang yang disesuaikan dengan kebutuhan sensori anak ADHD. Tahap ketiga adalah pengembangan draf akhir model berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan kajian literatur yang relevan, tanpa melibatkan proses validasi ahli maupun uji coba lapangan. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa sekolah inklusi memerlukan model ruang tenang yang aman, nyaman, dan terarah sebagai bentuk dukungan sistematis untuk membantu anak ADHD menenangkan diri, mengelola emosi, dan memulihkan kesiapan belajar. Luaran penelitian berupa dokumen panduan konseptual model ruang tenang yang dirancang sebagai dasar pengembangan layanan pendukung pembelajaran di sekolah.
Downloads
References
Abdussamad, Z. (2022). Evaluasi kebijakan pendidikan inklusif di Indonesia. Jurnal Evaluasi Reformasi, 5(2), 101–115.
Achmad, W. (2023). Implications of inclusive education policy in guaranteeing the rights of children. International Journal of Education and Social Science Studies, 4(1), 45–60.
Advanced Autism. (2023, December 31). Calming sensory room ideas for autism.
Children’s Guild. (2023, November 28). Sensory rooms for children with disabilities.
Graduate Program. (2023, April 12). Implementing sensory rooms for special education students.
Helmawati, H., Gunawan, G., Nalapraya, G., & Dharmawanti, H. (2025). Manajemen Pendidikan Inklusif Untuk Meningkatkan Layanan Anak Berkebutuhan Khusus. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(6), 6756-6764.
Jolivina, J. (2025). Penerapan Sensory Circuit Dan Pengaruhnya Terhadap Regulasi Emosi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus Di Sekolah X. DedikasiMU: Journal of Community Service, 7(4), 414-425.
Junari, Q. P., Audina, N., Azhari, R. Z., Sari, W. P., & Lestari, E. P. (2025). Strategi Pembelajaran yang Cocok Digunakan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). JIWA: Jurnal Inovasi Wawasan Akademik, 1(1), 37-48.
Kamal, M. (2020). Research and Development (R&D) tadribat/drill madrasah aliyah class x teaching materials arabic language. Santhet (Jurnal Sejarah Pendidikan Dan Humaniora), 4(1), 10-18.
Latif, M. A., Kusumawardani, N., Ayuni, N., & Febriayanti, H. (2024). Modifikasi Perilaku Anak Usia Dini: Problematika Anak ADHD. Nak-Kanak: Journal of Child Research, 1(2), 83-93.
Liana, S. (2024). Studi Tentang Kesulitan Fokus Anak dalam Pembelajaran: Tinjauan Psikologis dan Edukatif. PIJAR: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 3(1), 26-33.
National Autism Resources. (2025, December 7). School sensory rooms – A set up guide for educators.
National Council for Special Education. (2025). Sensory spaces in schools.
Okpatrioka, O. (2023). Research and development (R&D) penelitian yang inovatif dalam pendidikan. Dharma Acariya Nusantara: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 1(1), 86-100.
Permendikbudristek No. 48 Tahun 2023 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas. (2023). Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Phen, W., & Ratnasari, A. (2025). Sensory Design Exploration Its Impact on the Adaptive Behaviour of Children with Down Syndrome in Educational Settings. Lakar: Jurnal Arsitektur, 8(2), 179-191.
Rahmawati, Y. I., & Asyraf, M. F. A. (2025). Pengalaman Orang Tua Merawat Anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Proceedings of PsychoNutrition Student Summit, 2(1), 106-119.
Ramadani, L., & Mahabbati, A. (2025). Kindergarten Teachers as Educators, Mentors, and Facilitators for Children with ADHD: Guru Taman Kanak-Kanak sebagai Pendidik, Pembimbing, dan Fasilitator bagi Anak-Anak dengan ADHD. Indonesian Journal of Innovation Studies, 26(4), 10-21070.
Rosyid, I. R., & Marcillia, S. R. (2025). Evaluasi Ruang Terapi Sensori Integrasi Berdasarkan Karakteristik Hipovisual Dan Hipervisual Pada Anak Autis. Jurnal Arsitektur ARCADE, 9(1), 8-19.
Shaw, P., Stringaris, A., Nigg, J., & Leibenluft, E. (2014). Emotion dysregulation in attention deficit hyperactivity disorder. American Journal of Psychiatry, 171(3), 276-293.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Alya Rifa Nurjanah; Riska Hartanti

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


















