Martabat Manusia dan Komodifikasi Diri: Melihat Fenomena Self-Branding di Media Sosial Melalui Mata Immanuel Kant

Authors

  • Arlie Luqmansyah Walisongo State Islamic University
  • Tri Utami Oktaviani Walisongo State Islamic University

DOI:

https://doi.org/10.31004/riggs.v4i4.4629

Keywords:

Self-Branding, Komodifikasi Identitas, Etika Kantian, Media Sosial, Kapitalisme Digital

Abstract

Perkembangan media sosial yang pesat dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah cara individu berinteraksi, berkomunikasi, dan membangun identitas diri, melalui proses yang dikenal sebagai self-branding. Fenomena ini memberikan peluang bagi individu untuk memperkenalkan diri, meningkatkan pengaruh sosial, serta meraih peluang ekonomi yang lebih besar. Namun, praktik ini juga menimbulkan tantangan etis yang signifikan, terutama dalam konteks komodifikasi identitas. Self-branding sering kali mengharuskan individu untuk menampilkan citra tertentu yang sesuai dengan tuntutan pasar atau audiens, sehingga menempatkan martabat dan otonomi individu pada posisi yang terpinggirkan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dampak etis dari self-branding di media sosial melalui perspektif etika Kantian, yang menekankan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia dan otonomi individu dalam konteks digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis teks untuk menganalisis literatur yang relevan mengenai self-branding, kapitalisme digital, dan prinsip-prinsip etika Kantian. Temuan utama menunjukkan bahwa meskipun self-branding dapat meningkatkan karier dan memperluas jaringan profesional, ia juga berkontribusi pada komodifikasi identitas, di mana individu lebih dipandang sebagai objek yang dapat dimanipulasi untuk tujuan eksternal seperti popularitas dan pengakuan. Praktik ini bertentangan dengan prinsip Kantian yang menyatakan bahwa individu harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan sebagai alat untuk tujuan eksternal. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang etika digital, dengan menyoroti implikasi moral dari self-branding dan menyarankan pendekatan yang lebih etis dalam membangun identitas digital yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga menghormati martabat dan otonomi manusia.

Downloads

Download data is not yet available.

References

M. Hofmann, “Political Deliberation vs. Social Media Branding in Crisis-Prone Capitalist Democracies,” J. Polit. Sociol., vol. 2, no. 1, pp. 111–134, 2023, doi: 10.54195/jps.17736.

A. Zulqoifah Asmawati, N. Tahira, L. Septiani putri, M. Hartani, and S. Wahyu Fajriani, “Komodifikasi Identitas di Era Digital: Studi Literatur tentang Personal Branding di Media Sosial,” J. Cendekia Ilm., vol. 4, no. 6, pp. 1344–1354, 2025.

A. Cappelli, M. Coscia, F. Giannotti, and D. Pedreschi, “Self-Presentations on Social Network Sites: Emerging Adults And Their Marketised Personas,” Soc. Sci., vol. 2, no. August, pp. 1–14, 2024.

A. Du Preez, “Selfuitbeelding en Facebook : ’ n estetika van verdwyning ?,” LitNet Akad., vol. 10, no. 1, pp. 279–309, 2023.

M. Cheong, “Existentialism on Social Media,” J. Human-Technology Relations, vol. 1, no. October 2022, pp. 1–16, 2023, doi: 10.59490/jhtr.2023.1.7022.

R. Swarsono and A. Munip, “Digitalisasi Ekonomi dan Perubahan Pola Konsumsi Gen Z di Kalangan Mahasiswa,” vol. 10, no. 2, pp. 50–59, 2024.

R. Mayer and L. C. Edwards, “Self-determination theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-Being,” Routledge Handb. Adapt. Phys. Educ., vol. 55, no. 1, pp. 296–312, 2020, doi: 10.4324/9780429052675-23.

Marc Prensky, “The Digital Game-Based Learning Revolution,” J. Int. Learn., vol. 1, no. 1, pp. 1–19, 2021, doi: 10.1016/j.iheduc.2004.12.001.

C. Hammond, “My Language , My Identity : Exploring Identity Construction Processes of Users of Ghanaian Languages in a Multi-Cultural Higher Educational Institution in Ghana,” J. African Arts Cult., vol. 4, no. 4, pp. 1–25, 2020.

J. Hartley, J. Burgess, A. Bruns, and W. New, “A New Approach to ‘New Media,’” Berdikari J. Inov. dan Penerapan Ipteks, vol. 12, no. 1, pp. 1–11, 2021.

Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysic of Morals in focus. Routledge, 2020. doi: 10.4324/9780203714805.

M. Vero, “Virtual trust: Persuasion in social media,” Philos. Inq., vol. 9, no. 1, pp. 9–28, 2021, doi: 10.4454/philinq.v9i1.270.

V. Dhingra, S. Keswani, R. Sama, and M. Rafik Noor Mohamed Qureshi, “Social media influencers: a systematic review using PRISMA,” Cogent Bus. Manag., vol. 11, no. 1, p., 2024, doi: 10.1080/23311975.2024.2368100.

Immanuel Kant, Fundamental Principles of the Metaphysic of Morals by Immanuel Kant. 1904. doi: 10.4324/9781315252629.

M. Rusli, “Teologi Islam di Era Modern: Antara Tantangan dan Peluang dalam Pemikiran Kontemporer,” J. Ilm. Al-Jauhari, vol. 8, no. 2, pp. 232–246, 2023, doi: https://doi.org/10.30603/jiaj.v8i2.4249.

S. M. S. Dr. Drs. Thobby Wakarmamu, Metode Penelitian Kualitatif, 1st ed. Purbalingga: PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA, 2022.

M. R. Fadli, “Memahami desain metode penelitian kualitatif,” Humanika, vol. 21, no. 1, pp. 33–54, 2021, doi: 10.21831/hum.v21i1.38075.

A. A. Rusmiyati, A. Rasyid, K. Aini, F. Budiyono, and ..., Metodologi Penelitian: Panduan Praktis Penelitian Masa Kini, 1st ed. Surabaya: Global Aksara Press, 2021.

J. R. Bongiovi, “The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power,” Soc. Forces, vol. 98, no. 2, pp. 1–4, Dec. 2019, doi: 10.1093/sf/soz037.

S. Lomborg, Social Media, Social Genres. Routledge, 2013. doi: 10.4324/9780203520802.

N. Holm, Advertising and Consumer Society. London: Routledge, 2023. doi: 10.4324/9781003253037.

Karpinska and Ricia Chansky, Life Writing Outside the Lines. Routledge, 2020. doi: 10.4324/9780429342158.

V. Maria, S. D. Rizky, and A. M. Akram, “Mengamati Perkembangan Teknologi dan Bisnis Digital dalam Transisi Menuju Era Industri 5 . 0,” Wawasan J. Ilmu Manajemen, Ekon. dan Kewirausahan, vol. 2, no. 3, pp. 175–187, 2024.

S. Zuboff, “The age of surveillance capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power,” Yale Law J., vol. 129, no. 5, pp. 1460–1515, 2020, doi: 10.26522/brocked.v29i2.849.

S. Banet-Weiser, AuthenticTM: The politics of ambivalence in a brand culture. NYU Press., 2012.

Goffman and Erving, “Presentation of self in everyday life,” Am. J. Sociol., vol. 55, pp. 17–25, 1959.

Downloads

Published

23-12-2025

How to Cite

[1]
A. Luqmansyah and T. U. Oktaviani, “Martabat Manusia dan Komodifikasi Diri: Melihat Fenomena Self-Branding di Media Sosial Melalui Mata Immanuel Kant”, RIGGS, vol. 4, no. 4, pp. 6496–6504, Dec. 2025.