Repatriasi sebagai Diskursus Publik di Museum Singhasari: Analisis Pandangan Pengunjung, Pegawai, dan Mahasiswa Magang tentang Penempatan Arca Singosari
DOI:
https://doi.org/10.31004/riggs.v4i3.3076Keywords:
Repatriasi, Warisan Budaya, Museum Singhasari, Arca, Identitas Lokal, SejarahAbstract
Artikel ini mengeksplorasi perspektif dari berbagai pemangku kepentingan di Museum Singhasari, Kabupaten Malang, terkait penempatan arca-arca peninggalan Kerajaan Singhasari yang telah direpatriasi dari Belanda. Repatriasi warisan budaya merupakan isu penting dalam upaya pengembalian identitas nasional, pelestarian memori kolektif, serta rekonstruksi kesadaran sejarah bangsa Indonesia pasca-kolonialisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan pegawai museum, mahasiswa magang, dan pengunjung mengenai kesiapan Museum Singhasari dalam menerima arca-arca asli tersebut serta menelaah potensi dampaknya terhadap peningkatan kepuasan dan minat pengunjung terhadap museum daerah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik triangulasi data, melibatkan wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi lapangan. Data dikumpulkan dari tiga kelompok informan utama yang memiliki peran berbeda terhadap pengelolaan dan kunjungan museum. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman pandangan terkait lokasi ideal penempatan arca hasil repatriasi. Sebagian responden menilai Museum Nasional Jakarta lebih layak karena memiliki fasilitas konservasi dan keamanan yang memadai, sementara sebagian lainnya menginginkan arca dikembalikan ke Museum Singhasari sebagai representasi autentik sejarah lokal. Temuan ini menegaskan bahwa repatriasi bukan sekadar proses pemindahan artefak, tetapi juga merupakan wacana strategis dalam membangun kesadaran budaya, memperkuat identitas daerah, dan mendorong kolaborasi lintas lembaga untuk pengembangan museum daerah. Dengan peningkatan fasilitas, edukasi publik, dan manajemen koleksi, Museum Singhasari berpotensi menjadi pusat sejarah lokal yang lebih inklusif dan berdaya tarik tinggi.
Downloads
References
Achiyarini, A., Susilo, G. A., & Febrianto, R. S. (t.t.). MUSEUM SINGHASARI DI KABUPATEN MALANG TEMA: ARSITEKTUR KONTEMPORER.
Aliyah, E. Z., & Wiradimadja, A. (2023). Pengembangan LKPD Materi Sejarah Kerajaan Singosari Untuk Pembelajaran IPS Kelas Pendidikan dan Pengembangan Seni Tradisi.
Amalina, S. N. (2022). Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Indonesia berbasis Pendidikan Multikultural. Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual, 7(4), 853. https://doi.org/10.28926/briliant.v7i4.1182
Arfan, A. A. (2023). Kerajaan Singosari: Jejak Penting dalam Pemerintahan Pulau Jawa. Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, 11(2). https://doi.org/10.24235/tamaddun.v11i2.15095
Atmaji, L. T., & Nursyifani, C. U. C. (2020). BUKU VISUAL SEBAGAI ENSIKLOPEDIA DAN MEDIA UNTUK PELESTARIAN SEJARAH PENINGGALAN KERAJAAN SINGOSARI. DESKOVI : Art and Design Journal, 2(2), 99. https://doi.org/10.51804/deskovi.v2i2.520
Dinny, Mutiah, “Arca Brahma dan Sebagian Artefak dari Perang Puputan Bali Akhirnya Pulang ke Indonesia” 2024. - Lifestyle Liputan6.com (Diakses pada Jum’at, 18 April 2025, pukul 12:19)
Fatihah, L., & Riyanto, E. D. (2024). Repatriasi Arca-Arca Peninggalan Candi Singhasari Sebagai Upaya Pelestarian Cagar Budaya Pada Era Poskolonial. Journal of Contemporary Indonesian Art, 10(2), 196–217. https://doi.org/10.24821/jocia.v10i2.12632
”Indonesia Terima 472 Koleksi Benda Bersejarah dari Pemerintah Belanda” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan » Republik Indonesia 2023. (Diakses pada Jum’at, 18 April 2025, pukul 12:29)
Kurniawan, D., & Kusumasari, A. A. (2022). Perancangan Infografis Interaktif Bagi Pengunjung Museum Singhasari Malang. MAVIS : Jurnal Desain Komunikasi Visual, 4(01), 27–32. https://doi.org/10.32664/mavis.v4i01.650
Nainggolan, R., Wahyudi, A., & Purnomo, B. (2021). Nilai-Nilai Karakter Dalam Perjuangan Ken Arok Mendirikan Kerajaan Singasari Tahun 1222. Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Ilmu Sejarah, 4(1), 43–50.
Rahmawati, P. (t.t.). JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG.
Sapardan, W. (2023). Pemulangan Benda Cagar Budaya dan Identitas Nasional pada Era Pascakolonial di Indonesia. … of Buddhist and Hindu Art, Architecture and …, 2, 1–16. https://eprints.soas.ac.uk/39539%0Ahttps://eprints.soas.ac.uk/39539/1/Pratu_v2_2023_a2_Sapardan.pdf
Susilo, A., & Sarkowi, S. (2020). Perjuangan Ken Arok Menjadi Raja Kerajaan Singosari Tahun 1222-1227. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Kajian Sejarah, 3(1), 1–10. https://doi.org/10.31540/sindang.v3i1.900
Thomson, Iain D. 2011. Heidegger, Art, and Postmodernity. Cambridge: Cambridge University Press.
Tythacott, L., & Ardiyansyah, P. (Ed.). (2021). Returning Southeast Asia’s Past: Objects, Museums, and Restitution. NUS Press. https://doi.org/10.2307/j.ctv1r4xctd
Welcome to Museum Singhasari - SINGHASARI MUSEUM (Diakses pada Selasa, 29 April 2025, pukul 19:44)
Rooseno Bagus (39 tahun). Edukator Museum Singhasari Kab. Malang, Jawa Timur.
Leo. Edukator Museum Singhasari Kab. Malang, Jawa Timur.
Mahendra Alifian (21 tahun). Mahasiswa Magang Museum Singhasari Kab. Malang, Jawa Timur.
Mohamad Faszley (21 tahun). Mahasiswa Magang Museum Singhasari Kab. Malang, Jawa Timur.
Nadila Agatha (21 tahun). Pengunjung Museum Singhasari Kab. Malang, Jawa Timur.
Livia (22 tahun). Pengunjung Museum Singhasari Kab. Malang, Jawa Timur.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Lidya Islamiyah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


















