Analisa Nilai Pendidikan Karakter Tiga Paribasan Jawa Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun
DOI:
https://doi.org/10.31004/riggs.v4i3.2093Keywords:
Pendidikan Karakter, Semiotik, Serat Safingi, Pencak SilatAbstract
Penelitian ini merupakan temuan tentang nilai pada pendidikan karakter non formal. Pendidikan non formal menjadi peranan penting dalam menciptakan mental dan karakter pribadi siswa. Salah satunya adalah tentang budaya Jawa yang diungkapkan sebagai bentuk motivasi dan nasihat pada siswa. Pendidikan non formal seperti pencak silat dari perguruan Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun dengan 3 (tiga) paribasan antara lain Suro diro joyoningrat lebur dening pangastuti”, "Sepiro gedhening sengsoro yen tinompo amung dadi cobo" dan ”Memayu Hayuning Bawana” memiliki relevansi pada Serat Safingi yang di dalamnya ditemukan 5 (lima) nilai pendidikan karakter, terdapat 55 data dari 3 frasa. Dengan presentase kecenderungan pertama terletak pada Teteg ing kapribaden atau teguh dalam kepribadian dengan presentase 14,5% dan Tresna Marang Negara atau Cinta terhadap Negara dengan presentase 12,7%, Pitados lan mituhu dhumateng Gusti ingkang Maha Kuwaos atau Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan dengan presentase 9,0%. Metode penelitian yang digunakan adalah deksriptif kualitatif sehingga data dan sumber data dapat ditemukan dengan kecenderungan presentase yang relevan. Nilai-nilai pendidikan karakter tidak hanya diperoleh pada akademisi melalui peraturan Kemendiknas atau berdasarkan para ahli saja melainkan didapar dari nilai kearifan lokal dengan mengajarkan bentuk pethilan kalimat motivasi positif kepada anak didik dan tentang masyarakat Jawa yang berkaitan dengan sastra lama. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber rujukan dan wadah kreatif non formal diluar akademisi serta membangun intelligible character dan keseimbangan dalam memperbaiki biological character serta tetap berbudaya
Downloads
References
Camelia, Ersa. (2021). Pendidikan Karakter pada Keluarga Jawa dalam Nusantara. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, Vol. 3 No. 3, November 2021.
Darmasoetjipta, F. S. (1985). Kamus Peribahasa Jawa. Yogyakarta: Kanisius.
dero.desa.id/artikel Memaknai Istilah " Sepiro Gedening Sengsoro Yen Tinompo Amung dadi Coba dalam SH Terate 03/08/2025
Dewantara, Ki Hadjar. (1977). Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman
Florida, Nancy K. 1996. Surakarta Manuscript Project
Herusatoto, Budiono. (2008). Simbolisme Jawa. Yogyakarta: Ombak.
https://mudofir1922.wordpress.com/2011/12/17/sepiro-gedeneng-sengsoro-yen-tinompo-amung-dadi-cobo/ diambil 04/08/2025
Kompasiana.com.Suro Diro Jaya Diningrat Lebur Dening Pangastuti. 04/08/2025
Kumparan.com. 2021. “Makna dan Filosofi Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.” diambil 04/08/2025
Kurnia, E. D. (2013). "Penggunaan Leksem Binatang dalam Peribahasa Jawa," Lingua, Vol 9 No 2, pp. 8-17.
Liputan6.com (2021) kata mutiara PSHT beserta artinya yang mengandung filosofi diambil 04/08/2025
Listyarti, Retno. 2012. Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif, dan Kreatif. Jakarta: Erlangga.
Nurosita, Kholifatul (2016). "Analisis Tuturan dalam Peribahasa Jawa," Jurnal Endogami.
Sartini (2009). Hubungan antara kosakata bahasa dan nilai budaya masyarakat Jawa, jurnal Linguistik.
Semi. (1990). Metode Penelitian Kualitatif; Cara Melihat, Mendengar dan Membaca. Yogyakarta: Penerbit Universitas Gajah Mada.
Sutopo, H. B. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif (Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian). Surakarta: Sebelas Maret Press.
Taqwdaswintrani (2011). Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Makna Semiotik Legenda Aksara Jawa. Universitas Sebelas Maret.
Wardoyo. (2005). Dover Beach: Semiotics in Theory and Practice.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Fitri Anekawati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


















