Navigasi Krisis Identitas di Ekosistem Disfungsional: Strategi Koping dan Rekonstruksi Diri Remaja Akhir dalam Perspektif Psikologi Transpersonal
DOI:
https://doi.org/10.31004/riggs.v5i2.10834Keywords:
Psikologi Transpersonal, Krisis Identitas, Keluarga Disfungsional, Resiliensi, Spiritualitas, Studi Kasus KualitatifAbstract
Penelitian ini mengkaji dinamika pengalaman transpersonal seorang remaja akhir berinisial G.W. yang tumbuh dalam keluarga toxic, dengan fokus pada krisis identitas, pencarian makna hidup, dan proses rekonstruksi spiritualitas. Fenomena ini penting dikaji karena pola keluarga disfungsional sering kali menjadi pemicu sekaligus penghambat perkembangan psikologis dan spiritual individu muda, namun jarang mendapat perhatian dalam kajian psikologi transpersonal di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi informal yang dicatat dalam lima dimensi catatan lapangan, serta dokumentasi berupa rekaman audio dan transkrip verbatim. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik dengan triangulasi data observasi untuk memperkuat temuan. Hasil penelitian mengungkap enam tema utama, yaitu keluarga toxic sebagai titik awal krisis, krisis identitas dan kekosongan eksistensial, pencarian spiritual otentik melalui alam dan merenung, dialog personal dengan Tuhan, redefinisi ibadah dari ritual menuju cinta kasih, serta kesadaran untuk memutus rantai pola toxic keluarga. Faktor internal berupa kondisi emosional, faktor eksternal berupa kehadiran figur protektif yaitu Tante, dan faktor kontekstual berupa kedekatan dengan alam ditemukan turut memengaruhi dinamika tersebut. Pembahasan menunjukkan bahwa krisis eksistensial subjek sejalan dengan konsep existential vacuum, spiritual emergency, dan proses individuasi, sementara transformasi spiritualnya mencerminkan pergeseran dari religiusitas eksoterik menuju esoterik. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pengembangan psikologi transpersonal di Indonesia dan rujukan bagi konselor dalam mendampingi individu dari keluarga disfungsional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa krisis psikologis dapat menjadi jalan menuju pertumbuhan psikospiritual dan resiliensi diri yang autentik.
Downloads
References
[1] A. H. Maslow, Toward a Psychology of Being, 2nd ed. New York, NY, USA: Van Nostrand Reinhold, 1968.
[2] V. E. Frankl, Man's Search for Meaning, Rev. ed. New York, NY, USA: Washington Square Press, 1984.
[3] J. Bradshaw, Healing the Shame That Binds You. Deerfield Beach, FL, USA: Health Communications, 1988.
[4] E. H. Erikson, Identity: Youth and Crisis. New York, NY, USA: W. W. Norton & Company, 1968.
[5] S. Grof, Psychology of the Future: Lessons from Modern Consciousness Research. Albany, NY, USA: State University of New York Press, 2000.
[6] K. Wilber, Integral Psychology: Consciousness, Spirit, Psychology, Therapy. Boston, MA, USA: Shambhala Publications, 2000.
[7] S. Grof, Beyond the Brain: Birth, Death, and Transcendence in Psychotherapy. Albany, NY, USA: State University of New York Press, 1985.
[8] S. Nurhayati and D. P. Sari, "Krisis keluarga dan pencarian makna spiritual pada remaja akhir," Jurnal Psikologi Humanistik, vol. 5, no. 1, pp. 45–57, 2020.
[9] A. Hidayat, "Hubungan pola asuh otoriter dengan perkembangan identitas diri remaja," Jurnal Psikologi Perkembangan, vol. 8, no. 2, pp. 112–120, 2019.
[10] A. N. Putri and W. Rahardjo, "Figur protektif dalam keluarga disfungsional dan resiliensi remaja," Jurnal Psikologi Klinis Indonesia, vol. 10, no. 1, pp. 55–67, 2021.
[11] S. Grof and C. Grof, Spiritual Emergency: When Personal Transformation Becomes a Crisis. Los Angeles, CA, USA: Jeremy P. Tarcher, 1989.
[12] R. K. Yin, Case Study Research: Design and Methods, 5th ed. Thousand Oaks, CA, USA: Sage Publications, 2014.
[13] V. Braun and V. Clarke, "Using thematic analysis in psychology," Qualitative Research in Psychology, vol. 3, no. 2, pp. 77–101, 2006, doi: 10.1191/1478088706qp063oa.
[14] G. A. Bonanno, "Loss, trauma, and human resilience: Have we underestimated the human capacity to thrive after extremely aversive events?," American Psychologist, vol. 59, no. 1, pp. 20–28, 2004, doi: 10.1037/0003-066X.59.1.20.
[15] G. W. Allport and J. M. Ross, "Personal religious orientation and prejudice," Journal of Personality and Social Psychology, vol. 5, no. 4, pp. 432–443, 1967, doi: 10.1037/h0021212.
[16] F. Vaughan, The Inward Arc: Healing in Psychotherapy and Spirituality. Boston, MA, USA: Shambhala Publications, 1986.
[17] A. H. Maslow, The Farther Reaches of Human Nature. New York, NY, USA: Viking Press, 1971.
[18] C. G. Jung, The Archetypes and the Collective Unconscious, 2nd ed. Princeton, NJ, USA: Princeton University Press, 1968.
[19] K. I. Pargament, The Psychology of Religion and Coping: Theory, Research, Practice. New York, NY, USA: Guilford Press, 1997.
[20] C. L. Park, "Religion and meaning," in Handbook of the Psychology of Religion and Spirituality, 2nd ed., R. F. Paloutzian and C. L. Park, Eds. New York, NY, USA: Guilford Press, 2013, pp. 357–379.
[21] R. G. Tedeschi and L. G. Calhoun, "Posttraumatic growth: Conceptual foundations and empirical evidence," Psychological Inquiry, vol. 15, no. 1, pp. 1–18, 2004, doi: 10.1207/s15327965pli1501_01.
[22] M. Daniels, Shadow, Self, Spirit: Essays in Transpersonal Psychology. Exeter, UK: Imprint Academic, 2005.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Fito Uli Huda, Bayu Aji Santoso, Zuhud Anggit Wiradi, Nanda Kusuma Ningrum, Isnaeni Lutfiana Sari, Indah Lestari

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


















