Etika Kecerdasan Buatan dalam Filsafat Islam: Telaah Filosofis atas Relasi antara Akal, Moralitas, dan Teknologi Modern
DOI:
https://doi.org/10.31004/riggs.v5i2.10308Keywords:
Filsafat Islam, Etika, Kecerdasan Buatan, Akal, Moralitas, Teknologi ModernAbstract
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada abad ke-21 telah membawa transformasi signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga interaksi sosial. Kemampuan AI dalam mengolah data, mengambil keputusan, dan menjalankan fungsi-fungsi yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia menimbulkan berbagai peluang sekaligus tantangan etis. Di tengah perkembangan tersebut, muncul pertanyaan filosofis mengenai hakikat manusia, kesadaran, kebebasan, serta tanggung jawab moral dalam era teknologi yang semakin otonom. Dalam perspektif filsafat Islam, akal (‘aql) tidak hanya dipahami sebagai alat berpikir rasional, tetapi juga sebagai anugerah Ilahi yang memungkinkan manusia memahami kebenaran, membedakan baik dan buruk, serta menjalankan tugas kekhalifahan di bumi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi antara akal, moralitas, dan perkembangan teknologi modern, khususnya AI, melalui perspektif filsafat Islam. Metode yang digunakan adalah library research dengan pendekatan kualitatif-filosofis melalui telaah kritis terhadap pemikiran para filosof Muslim klasik, seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan al-Ghazali, serta pemikir kontemporer, seperti Seyyed Hossein Nasr dan Osman Bakar. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi, termasuk AI, tidak dapat dipandang sebagai instrumen yang sepenuhnya netral karena penggunaannya selalu berkaitan dengan nilai, tujuan, dan orientasi moral tertentu. Dalam kerangka filsafat Islam, pengembangan dan pemanfaatan AI harus berlandaskan nilai tauhid, keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan. Oleh karena itu, etika AI dalam Islam menekankan integrasi antara rasionalitas dan spiritualitas agar teknologi dapat mendukung kesejahteraan manusia tanpa mengabaikan dimensi moral dan kemanusiaannya.
Downloads
References
1. Abdullah, Amin. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
2. Abdullah, Amin. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
3. Adamson, Peter. Philosophy in the Islamic World. Oxford: Oxford University Press, 2016.
4. Al Maulud, dan Helmi Syaifuddin. “Sayyed Hossein Nasr’s Critique of Modernity: The Perspective of Perennial Philosophy and Its Relevance to Contemporary Islamic Thought.” Journal of Islamic Thought, Vol. 49, No. 1 (2025).
5. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Arah Kebijakan Pengembangan AI Nasional. Jakarta: BRIN, 2021.
6. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia 2020–2045. Jakarta: BRIN, 2020.
7. Bakar, Osman. Islam and the Challenge of Science and Technology. Kuala Lumpur: ISTAC, 1991.
8. Bakar, Osman. “Islamic Perspectives on Ethics and Emerging Technologies.” Journal of Islamic Thought and Civilization, Vol. 14, No. 1 (2024).
9. Black, Deborah L. “Al-Fārābī on the Perfect State and Intellectual Perfection.” Dalam The Cambridge Companion to Arabic Philosophy, disunting oleh Peter Adamson dan Richard C. Taylor. Cambridge: Cambridge University Press, 2005.
10. Bungin, Burhan. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2015.
11. Gutas, Dimitri. Avicenna and the Aristotelian Tradition. Leiden: Brill, 2014.
12. Helm, Paula, et al. “Language Modeling Bias and Epistemic Injustice.” Ethics and Information Technology (2024).
13. Hidayat, Komaruddin, dan Muhammad Wahyuni Nafis. Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. Jakarta: Paramadina, 2003.
14. Jackie Kay, et al. “Epistemic Injustice in Generative AI.” Proceedings of the AAAI/ACM Conference on AI, Ethics, and Society (2024).
15. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Etika Kecerdasan Artifisial di Indonesia. Jakarta: Kominfo, 2021.
16. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia 2020–2045. Jakarta: Kominfo, 2020.
17. Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017.
18. McGinnis, Jon. Avicenna. Oxford: Oxford University Press, 2010.
19. McInerney, Tomás. “The Algorithmic Construction of Epistemic Injustice.” SSRN Working Paper, 2025.
20. Nasr, Seyyed Hossein. Islam and the Plight of Modern Man. London: Longman, 1975.
21. Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred. Albany: State University of New York Press, 1989.
22. Nasr, Seyyed Hossein. Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press, 1996.
23. Pozzi, Giorgia, dan Juan M. Durán. “From Ethics to Epistemology in Machine Learning.” AI & Society (2024).
24. Shihab, M. Quraish. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 2007.
25. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2019.
26. Suryawan Bagus Handoko, dkk. “Modernism and Crisis: Seyyed Hossein Nasr's Idea on Spiritual Intelligence and Its Relevance Today.” Teosofia, Vol. 12, No. 2 (2023).
27. Taylor, Richard C. “Averroes and the Active Intellect.” Journal of the History of Philosophy (2012).
28. Wisnovsky, Robert. Avicenna’s Metaphysics in Context. Ithaca: Cornell University Press, 2003
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhamad Hapis, Muhamad Tamamul Iman

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


















