Representasi Kekuasaan dan Ketimpangan Sosial dalam Film Ozora
DOI:
https://doi.org/10.69693/ijmst.v5i1.14423Keywords:
Representasi, Kekuasaan, Ketimpangan Sosial, Roland Barthes, FilmAbstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kekuasaan dan ketimpangan sosial dalam film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Permasalahan penelitian berangkat dari penggambaran hubungan antara status sosial, kekayaan, dominasi, dan perbedaan akses terhadap keadilan yang dibangun melalui tanda audiovisual. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis makna denotasi, konotasi, dan mitos. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap enam adegan terpilih, dokumentasi, studi pustaka, serta wawancara pendukung dengan seorang anggota kepolisian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan direpresentasikan melalui kekerasan fisik, simbol kemewahan, relasi sosial, dan dukungan hukum yang berbeda. Pada tingkat denotasi, representasi tersebut tampak dalam tindakan tokoh, kendaraan, pakaian, ruang kepolisian, persidangan, serta respons masyarakat. Pada tingkat konotasi, tanda tersebut membentuk makna dominasi, privilese, ketidaksetaraan akses hukum, dan perjuangan memperoleh keadilan. Pada tingkat mitos, film menghadirkan gagasan mengenai kekuasaan sebagai pelindung, hukum yang dapat dipengaruhi, serta solidaritas publik sebagai kekuatan alternatif. Media sosial digambarkan sebagai sarana penyebaran informasi, pembentukan opini, dan mobilisasi dukungan masyarakat. Secara khusus, rangkaian adegan memperlihatkan pergeseran dari dominasi pelaku menuju perlawanan kolektif dan penyelesaian konflik melalui putusan pengadilan. Wawancara pendukung memperlihatkan perbedaan antara konstruksi naratif film dan pandangan aparat yang menekankan profesionalitas serta kesetaraan dalam penegakan hukum. Temuan ini menegaskan bahwa representasi film tidak dapat langsung digeneralisasikan sebagai gambaran seluruh praktik institusional. Penelitian menyimpulkan bahwa film Ozora berfungsi sebagai media kritik sosial yang mempertanyakan hubungan kekuasaan, ketimpangan, dan keadilan, sekaligus memperlihatkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam mengawasi proses hukum. Kajian ini memperkaya penerapan semiotika Barthes pada pembacaan relasi kekuasaan dan akses keadilan dalam film Indonesia kontemporer.
References
1. Addina, N., & Hanif, M. (2025). Pendidikan dan kekuasaan: Antara pembebasan dan dominasi perspektif Michel Foucault, Pierre Bourdieu, dan Paulo Freire. Jurnal Inovasi Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, 2(4), 196–210.
2. Chaniago, P., & Sos, S. (2019). Representasi pendidikan karakter dalam film Surau dan Silek (analisis semiotik Ferdinand de Saussure). Journal of Islamic Education, 4, 135–151.
3. Fadhila, D. P., Almira, C., & Priatnama, A. (2022). Metode penelitian analisis semiotik media sosial. Jurnal of Dakwah dan Communication, 1(2).
4. Fadhillah, M., & Mulyazir, M. (2023). Konsep semiotika Roland Barthes dan aplikasinya terhadap kajian Al-Quran. Jurnal Studi Islam Hukum dan Pendidikan Islam, 3(1), 28–37.
5. Fiskal, B. K. (2022). Analisis ketimpangan gender spasial dan pengaruhnya terhadap perekonomian wilayah.
6. Fitra, V. N., & Prihatmoko, J. (2026). Analisis representasi kekuasaan politik film Dirty Vote dalam perspektif Norman Fairclough. Spektrum, 23(1), 91–109.
7. Fitrianti, R., & Hanaf, A. A. (2025). Representasi identitas remaja melalui budaya tren di media sosial. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 3(3), 283–297.
8. Prasetya, T. L. (2022). Representasi kelas sosial dalam film Gundala (analisis semiotika Roland Barthes). Jurnal Audiens, 3.
9. Purbhawadi, K., Suastika, N. I., & Yudiawan, H. G. D. (2026). Pembaharuan hukum pidana terhadap tindak penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) dalam sistem hukum Indonesia. Jurnal Hukum, Administrasi Publik dan Negara, 3.
10. Putri, H. J., & Murhayati, S. (2025). Metode pengumpulan data kualitatif. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9, 13074–13086.
11. Reisa, S., & Irwansyah, I. (2021). Fragmentation and audience activity on video-on-demand platform: Netflix and the binge-watching. Jurnal InterAct, 2.
12. Salim, K., & Efriza. (2023). Sosiologi kekuasaan: Teori dan perkembangan. Bumi Aksara.
13. Sulianta, F. (2024). Semiotika digital. Feri Sulianta.
14. Sumarno, M. (2017). Apresiasi film. Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
15. Umbara, A., & Umbara, B. (Sutradara). (2025). Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel [Film]. Umbara Brothers Film. Tersedia melalui Netflix: https://www.netflix.com/id/title/82180374
16. Waruwu, M. (2023). Pendekatan penelitian pendidikan: Metode penelitian kualitatif, metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kombinasi (mixed method). Magister Administrasi Pendidikan, 7, 2896–2910.
17. Yusuf, M. A. (2022). Teori kekuasaan: Pengertian, legitimasi, dan sumber kekuasaan.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.














