Akibat Hukum Wakaf Harta Pusaka Tinggi Perspektif Undang-Undang Wakaf

Authors

  • Muhammad Yusuf Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
  • Mahlil Adriaman Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

DOI:

https://doi.org/10.69693/ijmst.v4i3.13572

Keywords:

Harta Pusaka Tinggi, Wakaf, Hukum

Abstract

Salah satu bentuk peralihan harta pusaka tinggi dalam adat Minangkabau adalah melalui wakaf kepada nazir untuk dimanfaatkan bagi keperluan ibadah, sosial, dan kepentingan umum. Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, praktik wakaf umumnya dilakukan secara lisan tanpa disertai bukti tertulis. Kondisi tersebut menimbulkan permasalahan hukum, sebagaimana terjadi pada tanah wakaf Mushalla Nurul Yaqin di Nagari Batagak, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004, objek wakaf harus didaftarkan untuk memperoleh akta ikrar wakaf yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) sebagai bentuk kepastian dan perlindungan hukum. Penelitian ini menggunakan metode normatif empiris dengan memadukan kajian terhadap norma hukum positif, peraturan perundang-undangan, dan peraturan Badan Wakaf Indonesia dengan data lapangan melalui wawancara bersama niniak mamak dan pengurus wakaf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wakaf tanah Mushalla Nurul Yaqin telah dilakukan secara lisan sejak tahun 1991 tanpa akta ikrar wakaf dan sertifikat tanah karena adanya penolakan dari kaum suku Guci terhadap pendaftaran secara resmi. Dengan demikian, berdasarkan hukum positif, wakaf tersebut belum memperoleh status hukum secara sempurna dan tanah hanya diperbolehkan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan keagamaan dan sosial. Kepastian dan perlindungan hukum dapat dicapai apabila persyaratan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 dipenuhi, khususnya melalui penerbitan akta ikrar wakaf dan sertifikat tanah wakaf.

References

1. Afdillah, F., Yefrizwati, Y., Sembiring, I. A., & Ketaren, M. M. (2024). Harta pusaka tinggi oleh perseorangan dalam masyarakat adat Minangkabau (Studi Putusan Nomor 26/Pdt.G/2013/PN.BS). Jurnal Media Akademik, 2(1). https://doi.org/10.62281/v2i1.85

2. Adiguna, F., Ismi, H., & Firmanda, H. S. (2024). Penyelesaian sengketa harta pusaka tinggi oleh Ninik Mamak Kaum Suku Koto di Pasa Rabaa Nagari Panyalaian Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(12), 200–213. https://doi.org/10.5281/zenodo.12522325

3. Adinegoro, K. R. R. (2021). Perubahan status harta benda wakaf berupa tanah. Jurnal Pertanahan, 11(1). https://doi.org/10.53686/jp.v11i1.38

4. Eficandra, E. (2022). The reconstruction of high-inherited wealth in Minangkabau through cash waqf movement. JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah), 21(1), 121–133. https://doi.org/10.31958/juris.v21i1.5850

5. Hakimah, A., Marom, R., Islamiyati, I., Musyafah, A. A., & Budiman, A. A. (2022). The implementation of land waqf law in Indonesia and Malaysia as a stage to land waqf law reform in Indonesia: A comparative study. LAW REFORM, 18(2), 164–183. https://doi.org/10.14710/lr.v18i2.46673

6. Haryanto, R., Maufiroh, L., & Sulaiman, S. H. (2023). Waqf land in Madura; Its management and typical dispute resolution. AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial, 18(2). https://doi.org/10.19105/al-lhkam.v18i2.7570

7. Islamiyati, I., Musyafah, A. A., Ardani, M. N., & Widanarti, H. (2024). Analisis kinerja PPAIW dalam penegakan hukum wakaf tanah di Indonesia. Law, Development and Justice Review, 7(1), 45–60. https://doi.org/10.14710/ldjr.7.2024.45-60

8. Iskandar, N. (2022). Kompromi hukum Islam dan adat dalam kewarisan pusaka tinggi di Minangkabau. JISRAH: Jurnal Integrasi Ilmu Syariah, 3(3), 483. https://doi.org/10.31958/jisrah.v3i3.8379

9. Kurniawati, E., & Sarono, A. (2022). Penguatan pengelolaan wakaf tanah melalui Lembaga Muhammadiyah Blora dari perspektif kepastian hukum. Notarius, 15(2), 833–846. https://doi.org/10.14710/nts.v15i2.38016

10. Monita, D., & Faniyah, I. (2022). Pelaksanaan dan berakhirnya gadai tanah harta pusako tinggi masyarakat adat Minangkabau. Jurnal Sakato Ekasakti Law Review, 1(1), 38–48. https://doi.org/10.31933/6hwk1c70

11. Mairul, M., & Azriadi, A. (2023). Pemanfaatan harta pusako tinggi di Minangkabau terhadap perlindungan anak korban penelantaran rumah tangga dalam konsep ABS-SBK dan hukum Islam. USRATY: Journal of Islamic Family Law, 1(2), 173–181. https://doi.org/10.30983/usraty.v1i2.7743

12. Santoso, U. (2024). Hak atas tanah sebagai objek wakaf pasca diundangkan Undang-Undang No. 41 Tahun 2004. Jurnal Education and Development, 12(1), 102–109. https://doi.org/10.37081/ed.v12i1.5520

13. Sup, D. F. A. (2021). Wakaf kontemporer di Indonesia dalam perspektif hukum dan fatwa. Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 4(2), 237–256. https://doi.org/10.30595/jhes.v4i2.11093

14. Taibu, R., & Novrianti, U. (2023). Perlindungan hukum tanah wakaf yang tidak memiliki akta ikrar wakaf. Jurnal Ilmu Hukum Kanturuna Wolio, 4(1), 31–40. https://doi.org/10.55340/jkw.v4i1.1010

15. Veronica, C., Arisandi, Y., & Afrianty, N. (2025). From law to practice: Assessing productive waqf governance under Indonesia’s Law No. 41/2004. El-Kahfi: Journal of Islamic Economics, 6(1), 45–54. https://doi.org/10.58958/elkahfi.v6i01.422

16. Wulandari, R. A., Efendi, R., & Rukmini, N. V. N. (2025). Waqf land dispute resolution in Indonesia and Malaysia: Legal and cultural approaches. Asy-Syari’ah, 27(1), 47–72. https://doi.org/10.15575/as.v27i1.44202

17. Ginting, V. A., Sembiring, R., & Maria. (2026). Perlindungan hukum terhadap harta pusaka tinggi Minangkabau dari perbuatan melawan hukum dalam pensertifikatan tanah (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 219 K/Pdt/2025). Jurnal Hukum Lex Generalis, 6(9). https://doi.org/10.56370/jhlg.v6i9.2614

Downloads

Published

18-09-2026

How to Cite

Yusuf, M., & Adriaman, M. (2026). Akibat Hukum Wakaf Harta Pusaka Tinggi Perspektif Undang-Undang Wakaf. Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology, 4(3), 7275–7284. https://doi.org/10.69693/ijmst.v4i3.13572