Situasi Sosial yang Mendorong Terjadinya Tindakan Bunuh Diri (Studi Kasus di Kabupaten Gorontalo)
DOI:
https://doi.org/10.31004/riggs.v5i2.13901Keywords:
Situasi Sosial, Tindakan Bunuh Diri, Integrasi Sosial, Regulasi SosialAbstract
Situasi sosial yang mendorong terjadinya tindakan bunuh diri di Kabupaten Gorontalo tentang integrasi dan regulasi sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus terhadap tiga kasus bunuh diri, yaitu SD mahasiswi berusia 19 tahun, RRK siswa berusia 13 tahun, dan FM IRT berusia 35 tahun. Data diperoleh melalui wawancara dengan keluarga, teman sebaya, masyarakat, pemerintah desa, dan pihak kepolisian serta dokumentasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situasi sosial yang melatarbelakangi ketiga kasus memiliki karakter yang berbeda. Kasus SD menunjukkan kecenderungan bunuh diri egoistik, yang berkaitan dengan persoalan hubungan asmara dan tekanan ekonomi. Kasus FM juga menunjukkan kecenderungan bunuh diri egoistik, yang berkaitan dengan persoalan hubungan interpersonal dalam rumah tangga, khususnya keterbatasan perhatian dan waktu bersama suami. Sementara itu, kasus RRK menunjukkan kecenderungan bunuh diri anomik, yang ditandai oleh konflik dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman perundungan, kecenderungan menyendiri, serta keterbatasan komunikasi dengan lingkungan sosial. Temuan tersebut menunjukkan bahwa situasi sosial yang mendorong tindakan bunuh diri tidak dapat dijelaskan melalui satu faktor tunggal, tetapi terbentuk melalui kondisi integrasi dan regulasi sosial dalam kehidupan individu. Tindakan bunuh diri berkaitan dengan keterikatan individu terhadap kelompok sosial serta kemampuan lingkungan dalam memberikan norma, arahan, dan dukungan dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Downloads
References
1. Byrne, S. J., Morgan, S., Fitzpatrick, C., Boylan, C., Crowley, S., Gahan, H., … Guerin,
2. S. (2007). Deliberate self-harm in children and adolescents: A qualitative study exploring the needs of parents and carers. Clinical Child Psychology and Psychiatry, 12(4), 493–504. (dikutip dalam Camara, M., Bacigalupe, G., & Padilla, P. (2017). The role of family in suicidal behavior: A systematic review. Family Process, 56(2), 418–431).
3. Carr, D. (2006). Families and relationships. Pearson.
4. Charmaz, K. (2006). Constructing grounded theory: A practical guide through qualitative analysis. London: Sage.
5. Creswell, J. W. (2013). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
6. Douglas, J. D. (1967). The social meanings of suicide. Princeton University Press. Durkheim, E. (1951). Suicide: A study in sociology. Free Press. (Karya asli terbit 1897). Durkheim, E. (1952). Suicide: A study in sociology (J. A. Spaulding & G. Simpson, Trans.). Routledge & Kegan Paul. (Original work published 1897).
7. Etikan, I., Musa, S. A., & Alkassim, R. S. (2015). Comparison of convenience sampling and purposive sampling. American Journal of Theoretical and Applied Statistics, 5(1), 1–4.
8. Guest, G., Bunce, A., & Johnson, L. (2006). How many interviews are enough? An experiment with data saturation and variability. Field Methods, 18(1), 59–82.
9. Hedegaard, H., Curtin, S. C., & Warner, M. (2020). Suicide mortality in the United States, 1999–2019. National Center for Health Statistics Data Brief, (398), 1–8.
10. Herbert Blumer. (1969). Symbolic interactionism: Perspective and method. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
11. Kompas. (2023, 8 November). Mahasiswi kedokteran hewan Unair ditemukan meninggal di dalam mobil, tinggalkan surat wasiat. Kompas.com.
12. Mantiri, F. (2016). Bunuh diri sebagai fenomena sosial dalam kehidupan masyarakat.
13. Jurnal Sosial Humaniora, 5(2), 123–134.
14. Moleong, L. J. (2007). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.
15. Moleong 2011. (2022). Metodologi Penelitian Kualitatif. In Metodologi Penelitian Kualitatif.
16. Morse, J. M. (1995). The significance of saturation. Qualitative Health Research, 5(2), 147–149.
17. Mutiara, D., & Ariana, A. D. (2022). Fenomena bunuh diri pada remaja di Indonesia dan faktor yang memengaruhinya. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 11(1), 1–10.
18. Olson, D. H., Waldvogel, L., & Schlieff, M. (2019). Circumplex model of marital and family systems. Journal of Family Theory & Review, 11(2), 199–211.
19. Polda Gorontalo. (2025). Data kasus bunuh diri di Kabupaten Gorontalo tahun 2022–2024. Dokumen laporan internal (tidak dipublikasikan).
20. Ritzer, G. (2012). Teori sosiologi klasik (Edisi ke-3). McGraw-Hill/Interamericana.
21. Safaria, T. (2021). Psikologi klinis: Memahami dinamika gangguan psikologis dan perilaku bunuh diri. Yogyakarta: Penerbit Andi.
22. Saunders, B., Sim, J., Kingstone, T., Baker, S., Waterfield, J., Bartlam, B., Burroughs, H., & Jinks, C. (2018). Saturation in qualitative research: Exploring its conceptualization and operationalization. Quality & Quantity, 52(4),1893–1907.
23. Steven Stack. (2000). Suicide: A 15-year review of the sociological literature. Part I: Cultural and economic factors. Suicide and Life-Threatening Behavior, 30(2), 145–162.Sugiyono. (2019). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
24. Valentina, T. D., & Helmi, A. F. (2016). Perilaku bunuh diri pada remaja: Kajian psikologis dan sosial. Jurnal Psikologi, 43(2), 120–134.
25. Weiss, N. H., Sullivan, T. P., & Tull, M. T. (2022). Gender differences in suicidal ideation and suicide attempts: A systematic review. Journal of Affective Disorders, 306, 1–10
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Rahmatia S Thalib, Dwia Aries Tina Pulubuhu, Sakaria Sakaria

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


















